Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryFeb 26, '08 3:41 AM
for everyone

Masih diambil dari artikel2 yang saya tulis untuk buku “Bisnis Maya Laba Nyata” (Roy Sembel dan Hanny Santoso, Elex Gramedia Komputindo, 2002). Saya akan posting semuanya ke Multiply, tapi harus dicari2 lebih dahulu :)

 Artikel ini ditulis akhir 2001, semoga masih relevan. Silakan berdiskusi J

 

Knowledge-Economy

Hanny Santoso

 

Memasuki milenium ketiga, semakin banyak saja orang berbicara tentang ekonomi baru (New Economy). Apa yang sebenarnya yang membedakan ekonomi ‘baru’ dengan ekonomi ‘lama’? Sebagian orang berpendapat bahwa ekonomi baru ditandai dengan tingginya penetrasi penggunaan komputer dan Internet dalam melakukan transaksi perdagangan, sehingga kemudian disebut sebagai Digital Economy. Kemudian muncul juga istilah Information Economy, yang mungkin diilhami pada era revolusi informasi sebagai gelombang ketiga dari sekuel trilogi revolusi, yaitu pertanian, industri dan terakhir informasi. Lalu kemudian ada istilah Network Economy, ini menggambarkan bahwa ekonomi baru sangat di pengaruhi adanya jaringan, baik secara teknologi, yaitu jaringan komputer dan Internet di seluruh dunia, maupun jaringan fisik karena dibukanya keran-keran pembatas antar negara dalam era keterbukaan dan globalisasi. Kemudian ada lagi yang menyebutnya sebagai Knowledge Economy, atau ekonomi yang akan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki oleh para pelaku ekonomi.

 

Menurut Pat Brogan dari Macromedia, disebut ada empat pilar yang akan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi baru: komputer, semikonduktor, health care dan medicine. Ke-empat sektor inilah yang diyakini merupakan pilar ekonomi baru. Artinya, ke-empat bidang inilah yang sedikit banyak akan berkembang secara laris manis dan akan mempengaruhi bidang-bidang lain di dunia ini. Sedemikian besarnya sehingga layak disebut semacam terjadi revolusi di bidang ekonomi dan perdagangan.

 

Revolusi D2D dan Repositioning Otak

 

Perkembangan teknologi komputer dan semikonduktor yang sedemikian pesat misalnya, telah menjamin konektivitas yang tinggi bagi semua orang di belahan dunia ini. Bila dicermati, dengan ditemukannya komputer dan perangkat komunikasi yang lebih portable, semacam laptop, notebook computer, telepon selular (cellular phone/mobile phone) dan PDA (portable digital assistants) telah memberi arti lebih pada makna komunikasi personal dengan segala macam content: video, audio, e-mail, SMS, dsb. Ini adalah jenis komunikasi yang wajar antara manusia dengan manusia yang lain (P2P – people to people).

 

Belum lagi teknologi BlueTooth yang nantinya akan sangat diharapkan akan menyebabkan hidup manusia akan semakin santai dan mudah. Dengan teknologi BlueTooth ini, nantinya semikonduktor akan ditempelkan di semua alat perlengkapan. Masing-masing alat tersebut dapat saling berkomunikasi untuk melayani manusia. Lemari es dengan sendirinya akan memberitahu bahwa persediaan telur dan susu habis kepada ponsel kita. Selanjutnya, saat kita melintas di depan toko serba ada saat berangkat kerja, ponsel akan berdering memberitahu kita bahwa jenis susu dan telur yang beli tersedia di toko tersebut. Tentu saja sebelumnya ponsel tersebut telah saling bertukar informasi dengan server yang menyediakan data persediaan susu dan telur di toko tersebut. Bisa pula diatur sebelumnya bila persediaan susu dan telur habis, maka secara otomatis lemari es mengirimkan pesanan pembelian kepada supermarket langganan kita. Selanjutnya barang akan dikirim langsung ke rumah. Melalui server, pembayaran bisa didebet langsung ke tabungan kita atau ke kartu kredit. Di sini kita melihat hubungan komunikasi antara alat dengan alat lain (D2D – device to device) saat ponsel berhubungan dengan server; dan alat dengan manusia (D2P – Device to People) saat ponsel memberitahu kita.

 

Dengan tingginya tingkat konektivitas antar manusia dan intelligent devices semacam itu, diharapkan manusia lebih terbantu dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan rutin dan yang tidak rutin. Dengan semakin tingginya tingkat P2P dan D2D, kita seharusnya lebih konsentrasi ke pekerjaan kita sebagai knowledge worker. Hal ini mengingat pekerjaan-pekerjaan rutin yang bisa dibantu dengan alat akan mulai diambil alih oleh D2D dan kita lebih fokus mengerjakan hal-hal yang benar-benar membutuhkan kemampuan berfikir kita. Maka telah terjadi repositioning terhadap fungsi otak. Otak dimaksimalkan penggunaannya untuk memikirkan sesuatu yang unik dan inovatif, sedangkan rutinitas sudah dapat digantikan oleh peran intelligent devices.

 

Di sini dapat kita lihat terjadi pula pergeseran fungsi komputer dan aplikasinya. Saat komputer ditemukan dulu, fungsinya adalah untuk pendukung pelaporan (informating & reporting). Divisi EDP (electronic data processing) hanya mendukung bagian-bagian lain untuk menghasilkan laporan berdasarkan data-data yang ada. Kini, komputer telah pula berfungsi untuk mengambil alih rutinitas manusia, dan telah mulai dapat bernalar (automating & reasoning) dengan adanya perangkat lunak yang smart seperti agents, rule-based expert systems, memecahkan masalah-masalah yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin. Aplikasi-aplikasi komputerpun bertambah maju sehingga sejak 1985-an manajemen suatu perusahaan dapat memanfaatkan aplikasi Executive Information System, Decision Support System, dsb. Pertengahahan tahun 1990-an teknologi komputasi kemudian mulai berkonvergensi dengan teknologi komunikasi sehingga kini messaging, collaborating, dengan banyak media, seperti ponsel, PDA, laptop dan sebagainya muloai banyak digunakan.

 

Tingkat konektivitas yang tinggi serta kapabilitas menghantarkan informasi secara cepat dan murah, membuat informasi makin mengalir cepat bagi semua orang tanpa kecuali, termasuk pula kepada para pesaing perusahaan. Mailing list ataupun Newsgroup di Internet misalnya, memudahkan kita untuk mengirimkan dan mendapatkan informasi dari dan ke suatu grup pemakai dengan interest yang sama. Situs web mudah diakses secara terbuka oleh semua kalangan. E-mail telah menghancurkan batas-batas fisik lapisan dalam struktur organisasi. Setiap orang boleh dengan bebas mengirimkan e-mail ke atasan yang paling atas sekalipun secara langsung.

 

Pengaliran  informasi yang cepat seperti ini pada akhirnya akan mempercepat semua proses dalam organisasi: proses perencanaan, proses produksi, sampai proses pengiriman. Dalam situasi persaingan global seperti ini, ketinggalan informasi bisa berarti kehilangan kesempatan. Kehilangan kesempatan berarti kehilangan terus menerus kemampuan bersaing dengan pesaing. Kurangnya kemampuan bersaing terus menerus dapat mengakibatkan ditinggal stakeholders. Stakeholders di sini adalah staf perusahaan, pelanggan, dan pemilik perusahaan (shareholders). Akhirnya, perusahaan bisa lebih cepat bangkrut kalau tidak waspada terhadap “penyakit kekurangan informasi”.

 

Peran Knowledge dalam Ekonomi Baru

 

Di Amerika, pada tahun 1980-an perbedaan jumlah lulusan universitas dan lulusan SMU hanyalah 50%. Tetapi pada tahun 1998, jumlahnya menjadi 111% dan terus bertambah. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan harus menjadi kebutuhan utama kalau orang tidak mau ketinggalan bersaing. Jumlah knowledge workers yang dibutuhkan perusahaan Amerika juga telah meningkat 3 kali lipat dalam dua dasawarsa terakhir.

 

Dalam paradigma ekonomi lama, penilaian perusahaan (company’s valuation) adalah berdasarkan berapa besar aset fisik dimiliki (price-to-book value, PBV), sehingga rasio PBV adalah 1 kali besar kapital yang dimiliki secara fisik, ini mencakup aset gedung, infrastruktur, produk nyata, dsb. Kini dalam knowledge-economy hal tersebut berubah mengingat intellectual capital dimasukkan dalam penilaian perusahaan, karena knowledge yang dimiliki para knowledge workers dinilai merupakan aset utama perusahaan. Akibatnya, penilaian perusahaan menjadi sedikit kacau, misalnya pada perusahaan dot-com dan dot-corp yang baru start-up. Market capitalization Microsoft misalnya, dikatakan mendapatkan $8 untuk setiap $1 yang dimilikinya. Hal ini karena kemampuan untuk terus berinovasi dalam produk  dihargai sangat tinggi. Demikian pula “switching cost” untuk beralih dari produk Microsoft ke produk lain juga tinggi sehingga konsumen loyal merupakan modal pula.

 

Menurut data IDC, secara global pendapatan di bidang jasa knowledge management (KM) seperti konsultansi, implementasi, operasi dan alihdaya (outsourcing), perawatan dan pelatihan akan mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Bila pada tahun 2000 diperkirakan sekitar US$2,3 milyar, maka di tahun 2006 akan naik menjadi sekitar US$ 12,7 milyar. Walaupun hingga saat ini hanya Amerikalah yang merupakan pengimplementasi manajemen pengetahuan terbesar, maka tahun 2005 diperkirakan persentase Amerika dalam investasi tersebut hanya mencapai 48% saja, sisanya merupakan porsi negara lain. Ini menandakan adanya kesadaran yang cukup serius di antara perusahaan-perusahaan di negara lain untuk lebih memperlakukan pengetahuan sebagai aset yang sangat penting.

 

Ada tiga hal penting yang saling berkaitan saat ingin menerapkan KM, yaitu people, process dan technology. Satu sama lain saling berhubungan erat. Pengetahuan diakuisisi dari people atas pengalaman dari proses-proses yang terjadi dalam organisasi. Teknologi berperan untuk mengubah pengetahuan tadi dari analog menjadin bentuk digital, yang dengan format yang terstruktur dapat diekstraksi sesuai kebutuhan. Dalam buku yang diterbitkan IDC “Knowledge Management: The Backbone to Success in the 21st Century”, dikatakan komponen kritis keberhasilan KM diterapkan adalah bila organisasi mampu menerapkannya untuk menghasilkan pengetahuan baru. Di sini kita melihat bahwa esensi dari KM adalah kemampuannya memfasilitasi terjadinya Learning Organization. Tak hanya individunya saja yang belajar, tetapi organisasinya juga perlu ikut belajar. Tak heran kemudian muncul istilah institutionalized knowledge,  karena suatu organisasi sangat perlu untuk meng-KM-kan seluruh pengetahuan yang ada. Hal ini penting mengingat aset utama dari banyak perusahaan saat ini adalah pengetahuan yang ada di masing-masing knowledge workers-nya. Sehingga kalau mereka tidak lagi bekerja pada perusahaan tersebut, maka pengetahuannya tak boleh turut lenyap.

 

Knowledge memang telah menjadi sumber aset yang berharga di era ekonomi baru ini. Mungkin saat ini merupakan pertama kalinya otak manusia diapresiasi sedemikian tinggi dan mendapatkan tempat paling terhormat jauh dibandingkan saat masih adanya budak belian di jaman abad pertengahan dahulu. Bahkan menjadi istilah tersendiri: Knowledge-Economy. Saya justru saat ini mengamati apakah New Economy ini malah akan menjadi  The New Euro-nomy, mengingat di tahun 2002 ini mata uang Euro mulai diterapkan dan kira-kira apakah dampaknya sedemikian besar sehingga akan mampu mendefinisi ulang ekonomi baru.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


0 Comments
Add a Comment